IOI 2016 – Kazan, Russia (part 2/2) [IDN]

To skip the technical part, click here

Day 5 – Contest Day 2 & Trip to Dinosaur Park

Sistem lomba day 2 ini sama dengan sistem lomba day 1. 3 soal yang diberikan pada hari ini adalah : Paint by Numbers, Unscrambling a Messy Bug, dan Aliens.

Di soal Paint by numbers, kita diberi string yang isinya ‘X'(hitam), ‘_’ (putih), ‘.’ (belum ditentukan). Kita juga diberi array c yang berisi k bilangan bulat. Cara cat yang valid: di dalamnya harus ada k blok hitam, dimana blok ke i (0 ≤ i < k) memiliki c[i] sel, dan sel yang sudah ditetapkan dalam input (yang sudah dicat hitam/putih), tidak boleh diganti. Kita harus menentukan untuk setiap sel, dalam semua kemungkinan string yang bisa dibuat, pasti bewarna hitam (tulis sebagai ‘X’), putih (tulis sebagai ‘_’), atau bisa dua-duanya (tulis sebagai ‘?’).

Setelah paham maksud soalnya, aku langsung kepikiran pasti pakai DP, soalnya kalau tidak salah ingat, aku dulu pernah kerja soal yang outputnya mirip seperti itu di SPOJ dan solusinya pakai DP. Karena aku kira soalnya akan sulit, aku langsung skip ke soal 2.

Soal Messy, ada data struktur yang bisa menyimpan sekelompok bilangan n-bit non-negatif (jadi bilangan-bilangan tersebut dalam bentuk 2^x). Kita bisa melakukan 3 jenis operasi:

  • add_element(a): masukkin a ke struktur data, kalau sudah ada tidak usah dimasukkan lagi.
  • check_element(a): cek apa a ada di struktur data
  • compile_set(): kompilasi struktur data

Tapi ternyata ada bug dalam compile_set(), jadi fungsi compile_set() bisa merubah isi struktur data. Ada sebuah permutasi p, panjangnya n, isinya {p_0,p_1,p_2,…,p_n-1}. Misal ada sebuah elemen x di strukdat, yang dalam biner a_0, a_1, …, a_(n-1). Maka, setelah compile_set(), x akan menjadi a_p_0, a_p_1, …, a_p_(n-1). Lalu juga ada batas maksimum melakukan add_element() dan check_element(). compile_set() hanya bisa digunakan sekali. Kita harus menentukan permutasi p.

Aku baca soalnya sekali. Ga ngerti. Baca ulang pelan-pelan dari atas. Tetap aja ga ngerti. Jadi langsung aku skip ke soal 3.

Dalam soal Aliens, ada grid m x m, dan n titik penting. Kita ingin memfoto setiap sel dengan setidaknya ada satu titik penting. Paling banyak hanya bisa foto k kali. Fotonya harus berukuran persegi, serta pojok kiri atas dan pojok kanan bawah harus berada di diagonal dari grid. Selain itu, dalam sebuah foto, sebuah sel harus semuanya masuk atau semuanya tidak masuk. Kita harus mencari cara memfoto, supaya: semua titik penting terfoto setidaknya sekali, jumlah sel yang terfoto setidaknya sekali adalah minimal.

Aku memutuskan untuk coba soal ini dulu sebelum soal yang lain, dan coba langsung poin akhir. Kalau ga salah, aku awalnya mikir ini juga soal DP, walaupun punya feeling aneh soalnya soal pertama pasti solusinya pake DP juga. Aku ga ingat coding apaan awalnya, tapi kalo ga salah bikin lemma-lemma aneh, terus DP yang solusinya pasti salah, terus coba submit. Hasilnya seperti yang diduga, dapat 0 #desperate. Setelah beberapa saat coba mikir lagi di soal ini, aku nyerah dan balik ke soal A.

Di soal A, aku coba dari coding satu-satu dari subtask terbawah. Subtask 2 paling bawah n ≤ 20, jadi pakai brute force masih bisa. Submit, dapat 10. Lanjut ke subtask selanjutnya. Ada constraint isi string cuma ‘.’ atau ‘_’. Jadi sebelum menjalankan DP-nya, aku precompute dulu, untuk setiap index, ‘_’ dari sebelah kanan index tersebut yang paling dekat di index mana. Lalu pakai DP[index sekarang][blok c yang lagi diproses] = boolean apakah jika dipasang ‘X’ atau ‘_’ hasilnya true. Untuk setiap DP[i][j], jika index string yang lagi diproses adalah ‘_’, maka langsung lanjut saja ke index selanjutnya, karena karakter tersebut tidak boleh diganti. Lalu kalau pada index tersebut karakternya ‘.’, aku coba taruh ‘X’ atau ‘_’ di index tersebut jika boleh. Kalau menaruh ‘X’, cek dengan hasil precompute ‘_’ terdekat yang tadi juga, lalu lanjutkan proses DP-nya di index setelah semua ‘X’ sebanyak c[j] itu, dan j-nya juga di increment 1. Kalau ternyata sampai terakhir hasilnya masih true, maka untuk semua index yang dicat hitam/putih, catat di array boolean ‘X’ atau ‘_’ true. Jadi aku juga ada 2 array boolean buat mencatat apakah pada suatu index bisa dipasang black dan white. Coba submit, dan berhasil dapat nilai 59.

Lalu aku lanjutkan untuk mencapai subtask terakhir, jadi tinggal ditambah untuk karakter ‘X’. Tidak banyak mengubah banyak codingan yang tadi, tinggal ditambah if untuk karakter ‘X’ saja. Karena jika di input sudah pasti ‘X’ tidak boleh diubah, tinggal dicek apakah untuk c[j] yang diproses tidak menumpuk karakter ‘X’ atau ‘_’ yang lain di index setelahnya. Coba pasang dan catat di array boolean itu lagi, dst. Coba submit, ternyata dapat 90 karena TLE.

Aku coba mikir cara optimasi time-nya lumayan lama, dan aku baru sadar lagi setelah baca code-ku. Jadi waktu aku catat true/false-nya di boolean, aku for satu-satu untuk setiap indexnya. Itu bisa dioptimasi dengan cara mengganti tipe array tersebut menjadi int, dan index mulai cat diincrement 1, dan index+1 setelah cat didecrement 1. Lalu setelah proses semua DP, tinggal dari index awal seperti diprefix sum gitu, jadi jika pada suatu index hasilnya positif, berarti index tersebut bernilai true dan sebaliknya. Terakhirnya, jika both array black sama white bernilai true, berarti karakternya ‘?’, jika hanya black yang true, karakternya ‘X’, jika hanya white yang true, karakternya ‘_’. Coba submit, AC owo)/** Kayanya ini AC-nya sekitar 2.30 – 3 jam setelah kontes dimulai, soalnya aku agak lama mikir di soal C 😦

Note: soal ini algoritmanya tidak terlalu susah, tapi kodingnya agak membingungkan soalnya lumayan banyak if-nya 🙂

Untuk 2 soal lainnya, aku tidak berhasil mendapatkan ide yang bagus, jadi cuma bisa receh subtask terendahnya 😦 Dan pada akhir kontes, aku baru sadar salah ngerti soal yang C: kalau fotonya intersect, selnya tidak dihitung lagi. Untung masih dapat 12 poin :p Selain aku, Sergio ternyata juga mengalami masalah yang sama.

~end of technical part~

Seperti Day 1, di IOI ini scoreboard tidak di-freeze, jadi setelah lomba kita semua bisa langsung tau dapat medali apa. Pada akhirnya aku dapat nilai total 289/600 dan mendapat peringkat 110 dari 310 peserta, Lung Sin dapat nilai total 306/600 dan peringkat 89, Ucup dapat nilai 256/600 dan peringkat 135, dan Sergio dapat nilai 251/600 dan peringkat 142. Jadi semua peserta dari tim Indonesia dapat medali perunggu owo)/***

Yang mendapat peringkat ke-1 adalah Ce Jin dari Cina, yang mungkin dikenal dengan username jcvb di Codeforces karena title-nya di sana Legendary Grandmaster. Dia mendapat nilai total 597/600.

Malam harinya ada jalan-jalan ke Dinosaur Park. Walaupun sama capeknya dengan contest day 1, karena lombanya sudah selesai semua, aku memutuskan untuk ikut. Sergio dan Lung Sin juga ikut, tapi Ucup lebih memilih untuk istirahat di kamar.

Waktu di bus, kita dikasih tiket masuknya dan 1 brosur yang isinya bilang ada kontes foto di Dinosaur Park. Kalau tidak salah ada 3 kategori: foto terlucu, foto ter-epic, dan satunya aku lupa. Kalau di-upload di instagram dengan hashtag tertentu, ada kemungkinan untuk dipilih jadi pemenang dan mendapatkan suvenir. Karena aku lumayan aktif di instagram, aku awalnya berpikir aku bakal ikut.

Ternyata Dinosaur Park itu berada di Kazan Stadium. Sewaktu menunggu bus lain datang, di parkiran kita foto-foto dulu, soalnya stadiumnya keren banget. Setelah melewati pintu masuk, kita disambut oleh maskot Dinosaur Park yang … menarik… ini

weird-mascot

Di dalam taman dinosaurus, banyak figure dinosaurus (ya iyalah). Kalau ga salah, dibuat dengan ukuran 1:1, dan hampir semua patungnya bisa gerak dan mengeluarkan suara-suara dinosaurus. Karena sayangnya aku tidak tertarik dengan dinosaurus, di taman itu aku cuma mengambil 1 foto makhluk paling epic yang sangat banyak tersebar di penjuru Dinosaurus Park:

screen-shot-2016-11-23-at-5-21-08-pm

Terus karena sepertinya Sergio dan Lung Sin juga tidak terlalu tertarik sama dinosaurusnya, setelah melihat semua patungnya, kita duduk-duduk di dekat tempat pos permainan carnival.

stadium

Tidak lama menunggu, kita lalu naik bus untuk balik ke asrama, dan dilanjutkan dengan istirahat.

Dan sampai tahap ini, sudah jelas aku benar-benar melupakan kontes foto instagram itu.

Day 6 – Excursion Day~

Ekskursi paginya, para peserta dibawa ke Innopolis University. Kalau ga salah, Innopolis ini di luar kota, mungkin jaraknya seperti Surabaya – Sidoarjo(?) Di sana ada banyak pos game outdoor interaktif. Misalnya game volleyball, bukannya pakai bola voli normal, tapi pakai bola voli yang diameternya ≥ tinggi peserta yang dari barat. Lalu ada pos Quidditch, dimana peserta harus pakai jubah hitam yang mirip di film Harry Potter (but not really, soalnya cuma kaya jubah graduation hitam biasa), terus ada 1 bola, masukkin gawang kaya sepak bola biasa, tapi peserta harus bawa sapu waktu main. Ada pos Pokemon Go, dimana ada 2 tim, 1 tim buat lemparin pokeballnya, 1 tim jadi pokemonnya. Jadi tim pokemon dikumpulin di 1 lingkaran, terus tim satunya lempar pokeball pakai ketapel besar, dan tim pokemon harus menghindar. Ada juga pos buat balapan robot yang dibuat mahasiswa di sana. Robotnya kaya laba-laba gitu terus dikontrol harus menghindari rintangan-rintangan di tracknya. Masih banyak juga pos-pos yang lain. Sebelum makan siang, para peserta dibagikan kertas bufallo, terus kita disuruh semacam flash mob: pegang kertasnya ke atas membentuk huruf ‘IOI’ terus direkam pakai drone, tapi sepertinya hasil akhirnya tidak jadi diupload(? please correct me if I’m wrong).

Setelah makan siang, sepertinya harusnya ada IT Exhibition di dalam Innopolis Universitynya, tapi kita (tim Indonesia), ga sempat nyobain banyak, soalnya digiring ke kelas buat ada lecture singkat tentang introduction to machine learning supaya kita bisa merasakan ‘kuliah’ di Innopolis University.

lecture

Setelah selesai lecture singkat itu, kita naik bus untuk pergi ke tempat ekskursi selanjutnya, yaitu Island Town of Sviyazhsk.

sviyazhsk-76

Photo taken from google

Di sana juga banyak pos-pos game tradisional lokal pulau yang bisa kita coba. Beberapa diantaranya ada pos buat menempa logam, kerajinan tanah liat, senjata (lempar kapak, lembing, panah, dan crossbow), teater singkat duel prajurit Russia (peserta juga boleh coba perang-nya, tapi pakai headgear + pelindung spons, unlike the performers), menganyam daun-daunan buat jadi flower crown, menghias kue, dan permain tradisional seperti melempar balok kayu untuk merobohkan balok-balok kayu yang disusun dan diletakkan di jarak yang jauh. Yang cowo-cowo kayanya semangat banget waktu coba pos senjata, sampai Sergio jarinya luka kegores panah :p

kue

Hasil hias kue kering 🙂

Sesudah itu, kita kembali ke asrama tempat kita tinggal, dan malamnya karena tidak ada acara, aku, Lung Sin, dan Ko Irvin memutuskan untuk jalan ke supermarket di seberang The Universiade Village untuk beli oleh-oleh, karena takut tidak sempat beli di keesokan harinya. Sergio tidak ikut soalnya sudah ada mamanya yang beli, dan Ucup memilih untuk titip Lung Sin untuk beli suvenirnya.

Di sana aku beli matryoshka buat mama, terus sebenarnya mau cari cokelat yang ada alkoholnya, tapi karena setelah tanya-tanya panitia IOI yang juga lagi belanja di sana ternyata ga ada jenis cokelat kaya gitu, aku memutuskan untuk beli truffle isi cappuccino yang enak banget :3

matryoshka

Sesudah Lung Sin beres memilih oleh-oleh buat dia sendiri dan Ucup, kita cepat-cepat balik ke asramanya, soalnya ada curfew gerbang utama ditutup jam 22.00, dan kalau ditutup, kita harus lewat gerbang lain yang jaraknya lebih jauh. Untungnya kita sampai sekitar 21.40an, jadi bisa lewat gerbang utama, dan istirahat di kamar masing-masing.

Day 7 – (not) Excursion + Closing Ceremony

Paginya sebenarnya ada “Tour of Kazan Federal University Facilities”, tapi seluruh peserta tim Indonesia memutuskan untuk tidak ikut. Aku ga tau yang cowo kenapa, tapi aku ga ikut karena aku dihadapkan dengan problem tersulit di IOI kali ini: Extreme DP (baca: packing). Bagi yang belum tau, aku kalau bepergian gaaaaa pernah bisa bawa barang sedikit. Tapi bedanya tahun 2015 dan 2016, koper yang aku bawa tahun 2016 ini bukan yang terbesar diantara rombongan dari Indonesia, soalnya Ko Irvin bawa koper yang jauh lebih besar soalnya berisi barang-barang yang dia bawa buat intern di US selama 1 bulan (thanks Ko :p ).

So, karena aku bawa barangnya sudah banyak dari awal, terus ditambah merchandise dari IOI, dan ditambah lagi oleh-oleh yang aku beli, aku butuh waktu sekitar 3 jam lebih buat packing semua barang pakai trial & error.

Jam 3 sore peserta dibawa ke Pyramid Complex untuk closing ceremony. Pyramid Complex ini katanya Rita sebenarnya adalah restoran mahal, tapi untuk kali ini yang dipakai cuma theaternya aja. Tampak luar gedungnya keren, bentuknya kaya piramid (ya iyalah =w=’).

pyramid

Photo taken from google

Peserta dari Indonesia pakai seragam batik yang dibeli waktu pelatnas 4, ditambah di sana kita diberi kopiah(?) yang biasanya buat petugas upacara. Kita sekalian sambil memperingati 17 Agustusan soalnya waktu closing ceremony itu juga 1 hari setelah hari peringatan kemerdekaan Indonesia. Video closing ceremony bisa dilihat di sini dan sini. Acara-acara yang disuguhkan di penutupan ini juga tidak kalah menarik dengan opening ceremony, walaupun sayangnya ada agak fail di awal: waktu ada dance pakai bayangan yang diiringi lagu Daft Punk – Pentatonix, beberapa lampunya tidak nyala 😦 . Tapi yang keren di ceremony kali ini yaitu panggung closing ceremony ini dihias, jadi terkesan lebih meriah.

Dalam closing ceremony ini, selain acara-acara entertainment, juga ada acara penyerahan bendera dari wakil host Russia, ke wakil host IOI tahun depan, yaitu di Tehran – Iran. Terus kita juga ditunjukkin video tentang Tehran dan logo IOI baru yang bagus banget.

ioi2017_2

Photo taken from google

Tidak lama menunggu, langsung dilanjutkan dengan pembagian medali. Pembagian medalinya dibagi beberapa sesi karena memang banyak banget, terus di tengah-tengahnya disuguhi acara-acara gitu. Karena yang saya bilang di atas kalau IOI pengumumannya setelah lomba langsung bisa tau dapat apa, jadi ga ada acara deg-degan waktu pembagian medali ini :p . Waktu pembagian medali perunggu sesi ke-n (lupa :p), aku dipanggil, naik ke panggung buat terima medali, sertifikat, dan semacam goodie bag yang aku kira awalnya isinya adalah kotak buat medali, tapi ternyata isinya headset 😀

penerimaan-medali

Photo taken by Pak Fauzan

Setelah bagi-bagi medali habis, kita foto-foto dulu di luarnya theater itu. Indonesia hasilnya dapat 4 bronze. Yay!

4-bronze

Waktu kita foto, salah satu orang dari tim Polandia menghampiri kita, aku kira buat apa, ternyata. . .

“Can we borrow your flag? Since your flag is the same as ours but upside-down hahaahha” =w=’

Setelah semua acara beres, para peserta diajak ke Riviera Complex – Ermitazh Concert Hall buat celebratory dinner, dan guest beserta leader dibawa ke tempat penginapannya guest. Ermitazh Concert Hall malam itu dihias kaya diskotik, lengkap dengan sound system yang deafening banget, apalagi tim Indonesia tempat duduknya di barisan paling depan. Tapi selain masalah speaker, acara-acaranya keren, ada light dance, beat box orang Rusia yang entah kenapa menurutku mirip banget sama PewDiePie (atau aku aja yang salah liat gara-gara ga pakai kacamata), terus ada akrobat pakai sepeda, dll. Terus juga ada pengumuman lomba foto instagram yang di Dinosaur Park itu, dan ternyata ada 1 peserta yang bela-belain banget bikin 1 account baru di insta yang isinya hanya foto-foto di taman itu. Setelah makan-makan, semua peserta diajak keluar untuk pertunjukkan kembang api. Malam ini aku juga membagikan suvenir gantungan kunci batik dari Indonesia ke negara-negara lain.

Setelah puas, kita kembali ke asrama sekitar jam 11.30 malam. Karena aku sudah selesai packing, aku setel alarm aku untuk bunyi jam 2.30 subuh, karena rencananya tim Indonesia akan diantar ke bandara dengan bus jam 3, dan tidur pulas.

Day 8 – Last day: Bye Russia, Hello Jakarta/Surabaya~

DAN TERNYATA RENCANAKU UNTUK TIDUR PULAS SELAMA 3 JAM GAGAL. o<-<
Waktu jam 2 subuh pintu kamarku digedor-gedor. Aku terbangun kaget dan langsung lari buka pintunya, ternyata ada Rita. Dia keliatan panik banget sambil bilang kalau busnya sudah mau berangkat dan ngomel-ngomel kenapa hpku ga bisa dihubungi (HP-ku setiap saat selalu kondisi silent, so—). Karena otakku masih ga connect, reaksiku cuma —
“…Ha?”
“THE BUS. WE ARE LEAVING NOW. I GIVE YOU 1 MINUTE TO PACK, AND WE WILL GO OUTSIDE.”
Brain: *Compiling…*
Brain: *Pending…*
Brain: *Running…*
“OH”
Aku langsung lari masuk, ganti baju, ambil koper dan lari ke luar. Waktu di luar, yang cowo juga belum siap, tapi untungnya kali ini tanpa harus menunggu lama, kita semua bisa kumpul dan menuju bus yang diparkir di luar Universiade Village. Kita terus say bye and thank you ke Rita, terus setelah menunggu sekitar 40 menit-an, busnya berangkat ke bandara. Karena di bandara ini otakku sebenarnya masih ga terlalu connect, aku benar-benar lupa kita ngapain aja di bandara, jadi aku skip bagian ini.

Perjalanan dari Kazan – Jakarta mirip dengan keberangkatan, cuma di-reverse saja urutannya, dan beda sedikit jam transitnya. Perjalanan pulang ini aku juga ga bisa tidur lagi, tapi sayangnya karena tempat dudukku terpisah dengan yang cowo-cowo, ga bisa main Trivia Tournament kaya tahun 2015 😦 . Jadi aku memutuskan untuk menonton film-film yang tersedia di pesawat, dari Civil War (review: banyak action, tapi plotnya meh), Batman vs Superman (meh, soalnya banyak yang sudah di-reveal di trailernya jadi ga exciting), Joy (ini bagus banget), sampai Ansatsu Kyoushitsu (Assassination Classroom) Live Action yang ke-2 sambil ngerant-ngerant dalam hati waktu nonton film ini (coba pikir deh, manga 180 chapters dikompres paksa ke 2 film live action doang, mana bisa bagus hasil akhirnya =w=’. Poin 2, bandingin Karma di manga dan Karma di live action. Keunikan karakter Karma di manga/anime itu soalnya dia pintar, preman, dan cute banget, tapi di live action jadinya cuma pintar dan preman aja :((((((((( #OOT )

Sampai di Jakarta, kita disambut Kementrian Pendidikan Nasional. Setelah foto-foto, wawancara sama wartawan Potensi (kali ini bukan aku yang diwawancara XD ), terus ditraktir makan di HokBen, dan ternyata dari tahun-tahun yang lalu memang traktirannya selalu di HokBen #FunFact. Sore harinya aku, Pak Rully, Sergio dan mamanya baru pulang ke Surabaya, dan di Bandara Juanda aku disambut oleh kepsek dan guru-guru SMA Petra 3 (just in case kalo baca ini, saya ucapkan terima kasih banyaaaak banget ke Bapak/Ibu yang selalu support saya :))))))) ).

soekarno-hatta

Penyambutan di Soekarno-Hatta. Photo taken from blog.ia-toki.org

Penutup & Pesan buat Pembaca

First of all, saya di sini mau mengucapkan terima kasih pada semua pembina TOKI, semua kepsek/guru/staf SMA Kr. Petra 3, mom+dad+sis, dan semua pihak yang mendukung tim Indonesia dari OSK – IOI.

IOI 2016 ini jadi olimpiade terakhir yang aku ikuti dari SD – SMA, dan perjalananku untuk mencapai titik ini bisa dibilang sama sekali tidak mulus. Dimulai dari kelas 7 SMP, aku ikut OSK bidang matematika, dan waktu pengumuman tiba-tiba aku didiskualifikasi tanpa ada alasan yang jelas, padahal nilaiku diprediksi masuk 3 besar Surabaya. Tapi aku ga menyerah, waktu kelas 8 aku coba lagi, dan baru bisa dapat medali perunggu 1 di OSN Matematika – Pontianak. Terus karena sistem olimpiade SMP yang tidak terlalu jelas, kalau tidak salah waktu itu aku ga bisa ikut semacam IMO-nya buat SMP (i forgot the name, sorry), soalnya yang bisa ikut pelatnas cuma medalis kelas 7 saja. Jadi habis itu aku langsung fokus belajar buat olimpiade komputer, karena aku dari awal memang tujuanku olimpiade komputer, tapi sayangnya SMP kelas 7-8 tidak bisa ikut. Waktu kelas 9 SMP, aku ikut buat OSN Komputer SMA. Perjalanan dari OSK – OSN kali ini mulus, tapi sayangnya di OSN-nya di Bandung aku ga berhasil dapat medali. 1 tahun sebelum OSN selanjutnya, aku tambah waktu belajar komputer-ku, dan akhirnya waktu kelas 10 aku baru berhasil mendapatkan medali emas di OSN Mataram. Terus masuk pelatnas, lumayan mulus bisa langsung sampai pelatnas 4, tapi jatuhnya malah di IOI-nya (IOI 2015 – Kazakhstan), di mana aku gagal dapat medali lagi. And that’s not the extend of my suffering that time, soalnya waktu IOI 2015 bisa dilihat aku satu-satunya peserta dari Indonesia yang ga dapat medali. Apalagi waktu itu Indonesia lagi beberapa tahun berturut-turut pasti semua peserta dapat medali (jadi dapat total 4 medali/tahun), and I broke that combo by not getting any medal. Terus 1 tahun ini aku belajar lebih sungguh-sungguh lagi, dan aku memang merasakan aku banyak perkembangan di beberapa area. Pada akhirnya, aku baru bisa dapat medali perunggu di IOI 2016 ini. Jadi 1 kalimat buat kalian yang lagi mengalami kegagalan di bidang apapun:

DON’T GIVE UP! owo)/***

Untuk mencapai keberhasilan itu ga ada proses yang instan, pasti banyak banget rintangan-rintangan yang dihadapi. @anak-anak pelatnas yang ga berhasil lolos ke IOI: Jika kalian tidak lolos pelatnas, berarti kalian belum siap. Belajar yang giat sebelum pelatnas tahun depan, dan lihat sendiri hasilnya nanti.

Jadi, bagi semua yang belum berhasil: Cheer up! Kalau kalian mau, kalian pasti bisa banyak berkembang di kesempatan selanjutnya. Bagi yang sudah ga bisa ikut pelatnas lagi? Waktu kuliah masih ada banyak lomba seperti ICPC dkk, kalian bisa balas dendam di sana. Banyak contoh tim yang sukses di ICPC yang ga memiliki background OSN/IOI waktu SMAnya.

@peserta cewe: Jangan menyerah. Jangan berpikir kalau olimpiade komputer adalah bidangnya cowo, karena sudah banyak contoh cewe yang sukses juga di bidang ini. Kalau kalian belum berhasil, atau mungkin dapat pressure/cercaan dari orang lain, just ignore them. Kalau kalian suka coding, jalani saja, karena nanti kalian pasti bisa mengalahkan mereka.

In conclusion, olimpiade komputer ini banyak sekali keuntungannya bagi kalian, dari ilmu, teman baru, sampai keuntungan-keuntungan yang bakal mempengaruhi masa depan kuliah dan kerja kalian. Jadi bagi yang berminat untuk belajar olimpiade komputer, kalian ga akan menyesal masuk ke dunia ini, dan asal kalian tekun belajar dan tidak menyerah, kalian pasti akan berhasil di saat yang tepat.

~End~

Random Fact:

  • Di parkiran mall tempat beli oleh-oleh, ada beberapa anjing liar(?) jenis german shepherd. Ternyata di Russia german shepherd termasuk anjing liar 😮
  • Lung Sin waktu di sana bawa 1 kaleng abon nabati (for vegetarians) yang targetnya dihabisin selama 1 minggu itu, jadi waktu makan aku nyoba juga, ternyata enak! Padahal aku sebenarnya ga suka abon ayam/daging. “It has. . . an interesting flavour.” – Rita
  • Di Russia gelapnya jam 8-9 malam, dan jam 2-3 subuh sudah terang kaya jam 12 siang di Indonesia. Jadi sering banget aku kebangun sendiri jam 3 subuh itu dan tidak bisa tidur lagi 😦 #curhat
  • Kaya bubur(2) di breakfast, yang aku bilang di post pertama itu, ternyata adalah … *ba dum tsss* bubur normal!!! Jadi ternyata di Russia ada 2 macam bubur: bubur yang manis itu, sama bubur yang asin, dan aku baru tau bubur asin itu di day 4-5 :’)
  • Entah kalian sadar atau tidak, tapi judul soal di IOI tahun ini tidak hanya terdiri dari 1 kata saja seperti soal-soal IOI tahun sebelumnya #RusiaBeraniBeda
  • Sewaktu menulis post ini, aku menyesal tidak membagi post ini jadi 3 bagian :’)))) panjang banget :’)

Reference Used:

  • Postingan di blog.ia-toki.org
  • Live commentary Ayaz, Agus, dan Prabowo di status FB-nya Ayaz
  • ioi2016.ru
Advertisements

2 thoughts on “IOI 2016 – Kazan, Russia (part 2/2) [IDN]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s